BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Absensi
Absensi adalah suatu pendataan kehadiran, bagian dari pelaporan aktifitas suatu institusi, atau komponen institusi itu sendiri yang berisi data-data kehadiran yang disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pihak yang berkepentingan. Menurut perkembangannya ada beberapa pengertian mengenai Absensi (Absenteeism) diantaranya :
Definisi ketidakhadiran (absenteism) adalah kegagalan untuk melapor pada waktu kerja (Panggabean : 2002). Dengan kata lain ketidakhadiran merupakan kegagalan seorang karyawan untuk hadir di tempat kerja pada hari kerja. Ketidakhadiran berbeda dengan terlambat (lateness) atau lamban (tardiness) yang menunjukkan kegagalan untuk datang tepat waktu. Cara menghitung ketidakhadiran dengan membagi time loss yaitu jumlah hari-hari yang hilang dengan frekuensi, yaitu jumlah kehadiran selama satu periode.
Menurut Bycio ketidakhadiran mempunyai hubungan dengan prestasi kerja, dimana ketidakhadiran dapat mengakibatkan rendahnya prestasi kerja (dalam Ruky : 2002). Hubungan ketidakhadiran dengan prestasi kerja juga dipengaruhi oleh kerumitan pekerjaan bagi karyawan yang memiliki kemampuan rendah, sehingga ketidakhadiran dapat mengakibatkan menurunnya prestasi kerja dibandingkan dengan karyawan yang memiliki kemampuan lebih tinggi (Goodman dan Atkin, dalam Ruky : 2002).
Menurut Long (1998 : 209) absensi dapat diklasifikasikan dalam empat kategori meliputi :
a. Absensi yang disebabkan penyakit (sakit).
b. Absensi karena seorang individu mengalami problem sendiri seperti depresi atau kecanduan alcohol.
c. Absensi karena suatu sebab yang membutuhkan kesepakatan dengan keluarga, seperti anak sakit.
d. Absensi tanpa alasan.
2.2 Pengertian Sistem
Kata sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu kumpulan elemen yang saling berkait dan bertanggung jawab memproses masukan (input) sehingga menghasilkan keluaran (output).
Menurut perkembangannya ada beberapa pengertian mengenai sistem diantaranya :
1 Menurut Gordon B Davis
Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang beroperasi bersama-sama untuk menyelesaikan suatu sasaran.
2 Menurut Jogiyanto HM, 2001
Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.
3 Menurut Dr.Ricardus Eko Indrajit
Pengertian sistem adalah suatu kumpulan dari berbagai posedur yang dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk mencapai suatu sasaran objektif yang telah ditetapkan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. Didalam suatu sistem diperlukan adanya keterkaitan yang terdiri dari elemen-elemen yaitu:
1. Tujuan
Merupakan tujuan dari sistem tersebut dimana komputer digunakan untuk mengurangi dan membantu tugas-tugas yang di lakukan oleh manusia dalam pengolahan data.
2. Kontrol
Merupakan pengawasan dari pelaksanaan pencapaian tujuan sistem pengawas dapat berupa:
a. Kontrol pemasukan data (input)
b. Kontrol pengeluaran data (output)
c. Kontrol pengoperasian (processing)
3. Input
Merupakan kajian dari sistem yang bertugas menerima data, dimana data yang masuk dapat berupa: asal masukan, jenis masukan.
4. Transformasi
Sistem komputer yang bertugas memproses data masukan (input) menjadi keluaran (output) sesuai dengan keinginan atau tujuan.
5. Output
Sistem komputer yang bertugas menghasilkan keluaran, tugasnya antara lain menghasilkan laporan dan grafik.
6. Umpan balik
Umpan balik bertujuan untuk melihat kembali apakah sistem telah berjalan sesuai dengan tujuan. Umpan balik yang di lakukan dapat berupa perbaikan dan pemeliharaan.
2.3 Pengertian Informasi
Terdapat beberapa definisi tentang pengertian informasi antara lain:
a. Data yang di olah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerima.
b. Sesuatu yang nyata atau setengah nyata yang dapat mengurangi derajat ketidakpastian tentang suatu keadaan atau kejadian.
Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan informasi merupakan data yang telah diproses atau diolah yang memiliki arti penting bagi si penerima dan dapat mengurangi derajat ketidakpastian tentang suatu keadaan atau suatu kejadian.(Raymond McLeod. Jr,2001)
2.3.1 Kualitas Informasi
Kualitas dari suatu informasi (quality of information) tergantung dari 3 hal, yaitu informasi harus akurat (accurate), tepat pada waktunya (timeliness) dan relevan (relevance). John Burch dan Gari Grudnitski menggambarkan kualitas dari informasi dengan bentuk bangunan yang ditunjang oleh tiga buah pilar.
![]() |
Gambar 2.1 : Pilar kualitas informasi
Sumber : Analisis & Desain Sistem Informasi, Jogiyanto HM, 2001
Kualitas Informasi tergantung dari 3 hal :
1. Akurat (Accurate)
Artinya informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak boleh menyesatkan serta harus jelas mencerminkan maksud dan makna yang terkandung dari makna pendukungnya.
2. Tepat waktu (Timeliness)
Artinya informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat. Informasi yang sudah usang tidak punya nilai lagi, karena informasi merupakan landasan di dalam pengambilan keputusan. Bila pengambilan keputusan terlambat, maka dapat berakibat fatal untuk organisasi..
3. Relevan (relevance)
Artinya informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakainya. Relevansi informasi untuk tiap-tiap orang satu dengan yang lainnya berbeda.
2.3.2 Nilai Informasi
Nilai dari informasi (value of information) ditentukan dari dua hal, yaitu manfaat dan biaya mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif dibandingkan dengan biaya mendapatkannya, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa informasi yang digunakan didalam suatu sistem informasi umumnya digunakan untuk beberapa kegunaan. Sehingga tidak memungkinkan dan sulit untuk menghubungkan suatu bagian informasi pada suatu masalah yang tertentu dengan biaya untuk memperolehnya, karena sebagian besar informasi dinikmati tidak hanya oleh satu pihak dalam perusahaan. Lebih lanjut sebagian besar informasi tidak dapat persis ditaksir keuntungannya dengan satuan nilai uang, tetapi dapat ditaksir nilai efektivitasnya. Pengukuran nilai informasi biasanya dihubungkan dengan analisis cost effectiveness atau cost benefit.
2.4 Konsep Dasar Sistem Informasi
Sistem informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang ditentukan. (Robert A Leitch dan K Roscoe Davis,2001)
2.4.1 Komponen Sistem Informasi
John Burch dan Gary Grudnitski mengemukakan bahwa sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebutnya dengan istilah blok bangunan (building block), yaitu blok masukan (input block), blok model (model block), blok keluaran (output block), blok teknologi (technology block), blok basis data (database block) dan blok kendali (controls block). Sebagai suatu sistem, keenam blok tersebut masing-masing saling berinteransi satu dengan yang lainnya membentuk satu kesatuan untuk mencapai sasarannya.
Gambar 2.2 Blok sistem informasi yang berinteraksi
Sumber : Analisis & Disain Sistem Informasi, Jogiyanto HM, 2001
1. Blok Masukan
Input mewakili data yang masuk ke dalam sistem informasi. Input disini termasuk metode-metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumen-dokumen dasar.
2. Blok Model
Blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan dibasis data dengan cara yang sudah tertentu untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.
3. Blok Keluaran
Produk dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen serta semua pemakai sistem.
4. Blok Teknologi
Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.
5. Blok Basis Data
Basis data merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, tersimpan diperangkat keras komputer dan digunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya.
6. Blok Kendali
Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti misalnya bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-kegagalan sistem itu sendiri, kesalahan-kesalahan, ketidak efisienan, sabotase dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung cepat diatasi.
2.5 Sistem Informasi absensi
Sistem Informasi absensi adalah sistem informasi untuk mencatat (manual ataupun elektronik), mengelola, dan melaporkan kehadiran / ketidakhadiran karyawan pada suatu perusahaan.
2.6 Pengertian Sistem Informasi Manajemen
Sistem informasi manajemen adalah suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa dalam suatu organisasi (Raymond McLeod, Jr.2001).
2.7 Siklus Hidup Sistem
Siklus Hidup Sistem adalah proses evolusioner yang diikuti dalam menerapkan sistem atau subsistem informasi berbasis komputer. Siklus Hidup Sistem terdiri serangkai tugas mengikuti langkah-langkah pendekatan sistem. Karena tugas-tugas tersebut mengikuti suatu pola yang teratur dan dilakukan secara botton-up, top-down, dll.
Langkah-langkah Siklus Hidup Sistem dimulai dengan : Perencanaan, Analisis, Desain, Pembangunan dan Testing, Implementasi, Operasi dan Perawatan dan Evaluasi. Siklus Hidup Sistem Informasi bisa digambarkan sebagai suatu pola serupa dengan roda. Lima Langkah adalah Analisis, Desain, Pembangunan dan Testing, Implementasi, Operasi dan Perawatan. Langkah-langkah ini secara bersama-sama dinamakan Siklus Hidup Pengembangan Sistem (System Development Life Cycles - SDLC).
Siklus Hidup Pengembangan Sistem informasi yang berbasis komputer dapat merupakan tugas kompleks yang membutuhkan banyak sumber daya dan dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Langkah-langkah Siklus Hidup Sistem sebagai berikut:
1. Perencanaan adanya suatu kebijaksanaan dan perencanaan untuk mengembangan sistem informasi. Tanpa adanya perencanaan yang baik, pengembangan sistem tidak akan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Tanpa kebijaksanaan pengembangan sistem oleh pimpinan puncak perusahaan / yang bertanggung jawab penuh sistem, maka pengembangan sistem tersebut tidak akan mendapatkan dukungan dari pihak manajemen puncak tersebut tersebut. Padahal dukungan dari pihak manajemen sangat penting artinya. Perencanaan sistem merupakan pedoman untuk melakukan pengembangan sistem. (dilakukan oleh pihak manajemen / user)
Bertujuan untuk mengidentifikasi dan memperioritaskan sistem informasi apa yang akan dikembangkan, sasaran-sasaran yang ingin dicapai, jangka waktu pelaksanaan serta pertimbangan dana yang tersedia dan siapa yang akan melaksanakannya.
a. Menyadari Masalah
b. Mendefinisikan Masalah
c. Menentukan Tujuan Sistem
d. Mengidentifikasi Kendala-kendala sistem
e. Membuat Studi Kelayakan
o Teknis : Tersedianya perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan pemrosesan yang diperlukan.
o Pengembalian Ekonomis: Dapatkah sistem yang diajukan dinilai secara keuntungan dengan membandingkan kegunaan dan biayanya.
o Pengembalian non ekonomis : Dapatkah sistem yang diajukan dinilai berdasarkan keuntungan-keuntungan yang tidak dapat diukur dengan uang.
o Hukum dan Etika : Akankah sistem yang diajukan beroperasi dalam batasan hukum dan etika.
o Operasional : Apakah rancangan sistem seperti akan didukung oleh orang-orang yang akan menggunakannya.
o Jadwal : Mungkinkah menerapkan sistem dalam kendala waktu yang ditetapkan.
f. Mempersiapkan Usulan Penelitian Sistem
g. Menyetujui atau Menolak Penelitian Proyek
2. Secara konseptual siklus hidup pengembangan sistem informasi adalah sbb:
a) Analisis Sistem: menganalisis dan mendefinisikan masalah dan kemungkinan solusinya untuk sistem informasi dan proses organisasi.
b) Perancangan Sistem: merancang output, input, struktur file, program, prosedur, perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem informasi
c) Pembangunan dan Testing Sistem: membangun perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem dan melakukan testing secara akurat. Melakukan instalasi dan testing terhadap perangkat keras dan mengoperasikan perangkat lunak
d) Implementasi Sistem: beralih dari sistem lama ke sistem baru, melakukan pelatihan dan panduan seperlunya.
e) Operasi dan Perawatan: mendukung operasi sistem informasi dan melakukan perubahan atau tambahan fasilitas.
Siklus tersebut berlangsung secara berulang-ulang. Siklus di atas merupakan model klasik dari pengembangan sistem informasi. Model-model baru, seperti prototyping, spiral, 4GT dan kombinasi dikembangkan dari model klasik di atas. (dilakukan oleh pihak konsultan / EDP Dept )
3. Evaluasi Sistem: mengevaluasi sejauh mana sistem telah dibangun dan seberapa bagus sistem telah dioperasikan. Tahapan evaluasi sistem secara terus menerus untuk menetapkan apakah sistem informasi tersebut masih layak diaplikasikan, jika tidak, sistem informasi tersebut akan diperbarui atau diperbaiki dan dimulai dari perencanaan kembali. (dilakukan oleh pihak manajemen / user).
2.8 Alat Bantu dalam Perancangan Sistem
2.8.1 System Procedure Diagram
System procedure diagram digunakan untuk membuat flowchart document / flow of document (manual) maupun flow of system (komputerisasi). Fungsi diagram ini untuk mendefinisikan hubungan antara bagian (pelaku proses), proses (manual atau berbasis komputer) dan aliran data (dalam bentuk dokumen masukan dan keluaran).
Tabel 2.1 System Procedure Diagram
Simbol | Fungsi | |||
| Simbol Dokumen
| Menunjukkan dokumen masukan (formulir dan dokumen keluaran laporan). | |||
| Simbol Proses Manual
| Menunjukan proses kerja manual.seperti pengesahan, terima gaji | |||
| | Menunjukkan input / masukan data | |||
| Simbol Transaksi
| Mendefinisikan penyimpanan yang bukan master berupa transaksi. | |||
| Simbol Berbasis Komputer ![]() | Mendefinisikan proses yang dilakukan dengan komputer seperti:penghitungan, pencetakan laporan, penjualan. | |||
| Simbol Display
| Menunjukkan output yang akan ditampilkan dilayar monitor. | |||
| | Menunjukkan penghubung kehalaman lain atau pindah halaman. | |||
Simbol Master | Menunjukkan file penyimpanan untuk data-data master. | |||
| Simbol Keterangan | Menunjukkan penjelasan dari suatu proses. | |||
| Simbol garis alir | Menunjukkan arus dari proses |
Sumber : Analisa dan Desain (Jogiyanto HM, 2001)
2.8.2 Data Flow Diagram (DFD)
DFD adalah diagram dari aliran data melalui sebuah sistem. DFD dapat di bagi menjadi dua yaitu DFD fisik dan DFD logis. DFD digunakan untuk komunikasi antara analis dan pemakai. Tujuan penggunaan DFD untuk menghubungkan aliran data dari seluruh sistem.
Simbol-simbol yang di gunakan dalam DFD antara lain :
Tabel 2.2 Simbol DFD
| Simbol | Fungsi |
![]() ![]() | PROSES Digunakan untuk menunjukkan transformasi dari masukan menjadi keluaran, dalam hal ini sejumlah masukan dapat menjadi hanya satu keluaran ataupun sebaliknya. |
| | ALIRAN DATA Digunakan untuk menggambarkan gerakan paket data atau informasi dari satu bagian ke bagian lain dari sistem dimana penyimpanan mewakili bakal penyimpanan data. |
| | PENYIMPANAN Dapat digunakan untuk mendefinisikan file atau basis data atau sering kali mendefinisikan bagaimana penyimpanan diimplementasikan dalam sistem komputer. |
![]() | TERMINATOR (asal / tujuan data) Melambangkan orang atau kelompok orang (misalnya organisasi diluar sistem, grup, departemen, perusahaan, perusahaan pemerintah) yang merupakan asal data atau tujuan informasi |
Sumber : Analisa dan Desain (Jogiyanto HM, 2001)
Data Flow Diagram itu sendiri dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a. DFD Diagram Context
Merupakan alat untuk menjelaskan struktur analisis. Pendekatan ini mencoba untuk menggambarkan sistem pertama kali secara garis besar dan memecahkannya menjadi bagian yang terinci yang disebut dengan lower level. Dan yang pertama kali digambar adalah level yang teratas sehingga disebut Diagram Context.
b. DFD levelled
Setelah context diagram dirancang kemudian akan digambar lebih terinci lagi yang disebut dengan over view diagram (level 0). Tiap-tiap proses di over view diagram akan digambar lebih terinci lagi dan disebut dengan level 1, dan kemudian di teruskan ke level berikutnya sampai tiap-tiap proses tidak dapat digambar lebih terinci.
2.8.3 Kamus Data (Data Dictionary)
Merupakan teknik lain untuk model data dalam sistem informasi dan merupakan tempat penyimpanan untuk semua level sederhana struktur data dan elemen data dalam sistem. Dengan demikian kamus data dapat mendefinisikan data yang mengalir di sistem dengan lengkap. Pada tahap perancangan sistem kamus data digunakan untuk merancang input, merancang laporan-laporan database. Kamus data dibuat berdasarkan arus data yang ada di DFD. Arus data di DFD secara lebih terinci dapat dilihat di kamus data. Dan untuk mendefinisikan struktur data yang ada di kamus data biasanya digunakan notasi-notasi yang menunjukkan informasi-informasi tambahan.
Notasi-notasi tersebut berbentuk :
Tabel 2.3 Simbol Data Dictionary
Simbol | Uraian |
| = | Sama dengan diuraikan menjadi, terdiri dari, mendefinisikan, artinya. |
| + | Dan |
| ( ) | Optional ( boleh ada / tidak ) |
| { } | Pengulangan |
| [ ] | Memilih salah satu dari alternatif |
| * * | Komentar |
| | | Pemisah sejumlah alternatif pilihan antara symbol |
Sumber : Analisa dan Desain (Jogiyanto HM, 2001)
2.8.4 Konsep Dasar Perancangan Basis Data
Perancangan pada basis data (database) adalah perancangan yang digunakan pada pembuatan sistem informasi perangkat lunak (software) ini. Basis data sendiri dapat didefinisikan sebagai berikut:
1. Himpunan kelompok data (arsip) yang saling berhubungan yang diorganisasi sedemikian rupa agar kelak dapat dimanfaatkan kembali dengan cepat dan mudah.
2. Kumpulan data yang saling berhubungan yang disimpan secara bersama sedemikian rupa dan tanpa pengulangan (redudancy) yang tidak perlu untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
3. Kumpulan file atau table atau pun arsip yang saling berhubungan yang disimpan dalam media penyimpanan elektronik.
Perancangan basis data terdiri dari ERD (Entity Relationship Data), normalisasi, table relasi atau relasi File, struktur File.
2.8.4.1 ERD (Entity Relationship Diagram)
ERD adalah merupakan suatu model data untuk mengilustrasikan desain logika dari skema database. (Fathansyah.Ir, 2001). ERD terdiri dari tiga bagian :
1. Entitas, yaitu suatu objek yang terdiri dari kumpulan data dari database.
2. Relasi, yaitu pengukur antar entitas
3. Atribut, yaitu menggambarkan hubungan antara entitas dan relasi.
ERD menggunakan sejumlah notasi dan simbol untuk menggambarkan struktur dan hubungan antar data.
Simbol-simbol yang digunakan yaitu :
Tabel 2.4 Simbol-Simbol ERD
| Simbol | Fungsi |
| Digunakan untuk menggambarkan obyek yang dapat didefinisikan dalam lingkungan pemakai sistem. |
| | Digunakan untuk menggambarkan elemen-elemen dari suatu entity, yang menggambarkan karakter entity |
Hubungan | Entity dapat berhubungan satu dengan yang lain. Hubungan ini disebut Relationship. |
| Garis | Digunakan untuk menghubungkan entity dengan entity dan entity dengan atribut. |
Sumber : Basis Data, Fathansyah.Ir, 2002
2.8.4.2 Normalisasi
Normalisasi adalah proses yang berkaitan dengan model data relasional untuk mengorganisasi himpunan data dengan ketergantungan dan keterkaitan yang tinggi atau erat. (Fatansyah, Ir. 2002).
Bentuk-bentuk Normalisasi :
1. Bentuk tidak normal
Merupakan kumpulan data yang akan direkam, tidak ada keharusan mengikat suatu format tertentu, dapat saja tidak lengkap atau terduplikasi. Data dikumpulkan apa adanya sesuai dengan kedatangannya.
2. Bentuk Normal Kesatu
Bentuk normal kesatu mempunyai ciri yaitu setiap data dibentuk dalam flat file. Data dibentuk dalam satu record dan nilai dari field berupa atomik value.
3. Bentuk Normal Kedua
Syarat yaitu bentuk data telah memenuhi kriteria kesatu. Atribut bukan kunci haruslah bergantung secara fungsi pada kunci utama.
4. Bentuk Normal Ketiga
Syarat yaitu harus memenuhi bentuk normal kedua. Setiap atribut bukan kunci haruslah bergantung hanya pada kunci utama dan pada kunci utama secara menyeluruh.
2.8.5 Perancangan Masukan dan Keluaran (Input Output Design)
o Desain Input
Untuk membuat laporan baru ke dalam perkembangan sistem adalah dengan menggunakan dokumen dan prosedur desain input sehingga perkembangan sistem dapat berkembang dengan cepat dan akurat pada sistem informasi.
Tujuan desain input :
1. Untuk mengefektifkan biaya pemasukan data.
2. Untuk menjamin kemasukan data dapat diterima dan dimengerti oleh pemakai.
o Desain Output
Desain output merupakan keberhasilan dari sistem informasi. Setelah desain input dan file berlangsung maka akan terjadi desain output.
2.9 Bahasa Pemrograman Visual Basic 6
Visual Basic 6 merupakan salah satu tool untuk pengembangan aplikasi yang banyak diminati oleh orang. Di sini Visual Basic 6 menawarkan kemudahan dalam pembuatan aplikasi dan dapat menggunakan komponen-komponen yang telah disediakan. Untuk memulai Visual Basic 6 anda perlu menginstall Visual Basic 6.0. Program ini biasanya dalam satu paket dengan Visual Studio 6.0.
Dengan menggunakan Visual Basic 6 kita dapat menghasilkan berbagai macam jenis program. Dari aplikasi yang mengintegrasikan database, jaringan, office automation, dan web application. Layar awal tampilan Visual Basic 6 dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3: Layar awal tampilan Visual Basic 6
Sumber : Alam M, A. J., Belajar Sendiri Microsoft Visual Basic 6.0, 2003.
Pada layar awal akan muncul tampilan seperti dia atas. Visual Basic menyediakan banyak modul aplikasi. Untuk memulai program standard modul yang dipilih adalah Standard EXE. Layar tampilan IDE dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Layar tampilan IDE
Sumber : Alam M, A. J., Belajar Sendiri Microsoft Visual Basic 6.0, 2003.
Gambar di atas adalah IDE (Integrated Development Environment) yang memiliki beberapa bagian seperti:
a. Form Designer
Pada form design ini adalah tempat kita merancang user interface (antar muka pemakai). Untuk menampilkan layar ini dapat mengklik pada tombol Design View atau dengan menekan tombol Shift + F7. Sedangkan untuk layer coding dapat menekan tombol F7.
b. Menu Toolbar
Menu Standar pada windows, dapat digunakan untuk membuka project menyimpan project, menjalankan project, dan sebagainya.
c. Toolbox
Disinilah tempat komponen-komponen yang disediakan untuk merancang user interface. Masing-masing komponen memiliki ciri dan kegunaan masing-masing. Komponen kita gunakan sesuai kebutuhan kita.
d. Project Explorer
Di sini adalah struktur project yang sedang kita kerjakan. Suatu project dapat terdiri dari beberapa form.
e. Properties
Pada kolom ini menampilkan Properties dari komponen yang sedang aktif. Property adalah data-data atau karakteristik yang dimiliki oleh suatu objek komponen.
2.10 Barcode
Barcode adalah sebuah bentuk artificial identifier. Barcode merupakan sebuah kode mesin yang dapat dibaca. Barcode terdiri dari sebuah bentuk bar dan spasi (hitam dan putih) dalam rasio yang didefinisikan yang mempresentasikan karakter alphanumerik. Kode baris digambarkan dalam bentuk baris hitam tebal dan tipis yang disusun berderet sejajar horizontal. (Aplikasi Barcode, http://www.ean.or.id/ean/barcode_full.php)
Untuk membantu pembacaan secara manual dicantumkan juga angka-angka dibawah kode baris tersebut. Angka-angka tersebut tidak mendasari pola kode baris yang tercantum. Ukuran dari kode baris tersebut dapat diperbesar maupun diperkecil dari ukuran nominalnya tanpa tergantung dari mesin yang membaca. Alat yang digunakan untuk membaca barcode adalah Barcode Scanner
Jenis barcode sangatlah banyak mulai dari yang tradisional yaitu 1 dimensi sampai dengan barcode yang multi dimensi, dalam artikel ini akan dibahas barcode 1 dimensi dan dibatasi pada jenis-jenis yang populer digunakan tetapi dapat memberi pengertian dan gambaran yang jelas mengenai barcode.
Barcode ada dua bentuk :
1. Barcode satu dimensi (1D)
Barcode satu dimensi biasanya dinamakan linear bar codes (kode berbentuk baris). Contoh barcode satu dimensi adalah sebagai berikut :
· Code 39 (code 3 of 9).
Adalah sebuah barcode alphanumerik (full ASCII) yang memiliki panjang baris yang bervariasi. Aplikasi barcode jenis code 39 adalah untuk inventory, asset tracking dan digunakan pada tanda pengenal identitas.

Gambar 2.5. Barcode jenis Code 39
· Code 128
Adalah suatu barcode alphanumerik (full ASCII) yang memiliki kerapatan (density) yang sangat tinggi dan panjang baris yang bervariasi. Barcode code 128 ideal untuk aplikasi seperti shipping and warehouse management (pangaturan maskapai pelayaran dan pengelolaan gudang).

Gambar 2.6 Barcode jenis Code 128
· Interleaved 2 of 5
Adalah sebuah barcode yang berbentuk numerik dan memiliki panjang baris yang bervariasi. Barcode interleaved 2 of 5 dapat dipergunakan untuk aplikasi industri dan laboratorium.

Gambar 2.7. Barcode jenis Interleaved 2 of 5
· UPC (Universal Product Code)
Adalah sebuah barcode yang berbentuk numerik dan memiliki panjang baris yang tetap (fixed). UPC digunakan untuk pelabelan pada produk-produk kecil/eceran (retail product labeling). Simbol ini dibuat untuk kemudahan pemeriksaan keaslian suatu produk. Bilangan-bilangan UPC harus diregistrasikan atau terdaftar di Uniform Code Council.

Gambar 2.8. Barcode jenis UPC
2. Barcode dua dimensi (2D)
Adalah barcode yang dikembangkan lebih dari sepuluh tahun lalu, tetapi baru sekarang ini mulai semakin populer. Barcode dua dimensi ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan linear bar codes (barcode satu dimensi) yaitu, dengan menggunakan barcode dua dimensi, informasi atau data yang besar dapat disimpan di dalam suatu ruang (space) yang lebih kecil. Contoh barcode dua dimensi adalah “symbology PDF417” yang dapat menyimpan lebih dari 2000 karakter di dalam sebuah ruang (space) yang berukuran 4 inch persegi (in2).

Gambar 2.9. Barcode jenis PDF417
2.11 Alat Pembaca Barcode
Barcode Reader adalah alat yang digunakan untuk membaca kode barcode. Sistem kerja barcode reader hampir sama dengan inputan pada keyboard tinggal menghubungkan barcode ke PS2 kemudian komputer sudah menganggap barcode reader tersebut adalah keyboard tanpa adanya instalasi driver.( Aplikasi Barcode, http://www.ean.or.id/ean/barcode_full.php)
Perbedaan barcode reader dengan keyboard adalah barcode reader membaca sebuah kode barcode kemudian memasukan kode tersebut ke dalam computer dengan menambahkan karakter enter. Cara kerjanya yaitu dengan mengibaskan cahaya infra merah terhadap Barcode yang tertera pada produk tersebut.
Sedangkan cara penggunaannya selain dipegang langsung kemudian ditekan tombolnya secara manual, barcode reader juga dapat digunakan secara otomatis (autoscan), yaitu dengan meletakkan barcode reader di atas stand (dudukan barcode reader), kemudian barcode reader disetting ke mode auto scan. Apabila kita mendekatkan barcode pada barcode reader maka barcode reader akan otomatis membacanya.
Kedua sistem ini menterjemahkan hasil pembacaan barcode sebagai masukan (input) dari keyboard. Biasanya menggunakan port serial pada komputer. Sebagai perantara keduanya, diperlukan software perantara, yaitu software wedge yang akan mengalamatkan bacaan barcode ke software pengolah data barcode tersebut.
a. ANSI X3.182. UPC code yang digunakan di US ANSI/UCC5 merupakan standar Amerika.
b. ISO/IEC 15416 (barcode linear) dan ISO/IEC 15415 (2D barcodes) adalah standar internasional.
c. Standar Eropa EN 1635 yang kemudian digantikan ISO/IEC 15416.
d. ISO 15426-1 (linear barcode verifier compliance standard) atau ISO 15426-2 (2D barcode verifier compliance standard).
Saat ini terdapat beberapa jenis instrumen pembaca barcode, seperti pena, laser, serta kamera. Pembaca berbentuk pena memiliki pemancar cahaya dan dioda foto yang diletakkan bersebelahan pada ujung pena. Pena disentuhkan dan digerakkan melintasi deretan batang barcode. Dioda foto akan menerima intensitas cahaya yang dipantulkan dan mengubahnya menjadi sinyal listrik, lalu diterjemahkan dengan sistem yang mirip dengan morse.

Gambar 2.10 Scanner dengan instrumen pena laser
Pembaca dengan pemancar sinar laser tidak perlu digesekkan pada permukaan barcode, tapi dapat dilakukan dari jarak yang relatif lebih jauh. Selain itu, pembaca jenis ini memiliki cermin-cermin pemantul sehingga sudut pembacaan lebih fleksibel.

Gambar 2.11 Scanner dengan instrumen laser
Pembaca barcode dengan sistem kamera menggunakan sensor CCD (charge coupled device) untuk merekam foto barcode, baru kemudian membaca dan menterjemahkannya kedalam sinyal elektronik digital.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar